Arsip Tag: faktor susah hamil alsan susah hamil

Duh, Kok Tak Kunjung Hamil?

 

PENYEBAB wanita tak kDuh, Kok Tak Kunjung Hamil?unjung hamil bisa disebabkan faktor yang berasal dari wanita maupun pria. 

Kegelisahan melanda pasangan Ari dan Trias. Tiga tahun mengecap biduk rumah tangga, tapi tanda-tanda kehamilan tak tampak jua. Padahal, hubungan intim seminggu 3-4 kali rutin mereka lakukan. “Dulu sebelum nikah, saya pikir punya anak itu gampang. Ternyata, enggak juga ya,” tutur Trias yang menikah pada usia 27 tahun. 

Wanita yang bekerja sebagai konsultan SDM itu mensinyalir stres dan kesibukan kerja sebagai biang masalah sulitnya punya momongan. “Seringnya say
a dan suami bekerja lembur mungkin saja jadi salah satu penyebabnya,” ungkapnya. 


Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, sekitar 50-80 juta pasangan mengalami kesulitan mendapatkan keturunan. Masalah ketidaksuburan (infertilitas) ini tentu merisaukan, tak hanya bagi pasangan suami-istri (pasutri), juga keluarganya. Diperkirakan sekitar 10-15 persen pasangan usia subur mengalami masalah infertilitas. 

Menurut spesialis kebidanan dan kandungan dari Klinik Fertilitas Teratai RS Gading Pluit Jakarta Utara, dr Irsal Yan SpOG, masalah ketidaksuburan bisa disebabkan faktor istri (45 persen), suami (40 persen), dan faktor lainnya yang tidak jelas (15 persen). “Ketidakjelasan itu dikarenakan kasus infertilitas melibatkan banyak faktor, seperti aspek psikologis, gaya hidup, riwayat keturunan, dan kebiasaan,” tuturnya. 

Untuk bisa hamil,organ reproduksi wanita harus berada dalam kondisi sehat. Jika ada masalah seperti saluran telur yang tersumbat, pematangan sel telur yang tidak sesuai jadwal, adanya endometriosis, masalah di rahim dan mulut rahim (misalnya terdapat miom), ataupun disfungsi seksual, maka dapat diprediksi bahwa kehamilan akan terhambat. Adapun infertilitas karena faktor suami meliputi kelainan pengeluaran sperma, kelainan produksi dan pematangan sperma, penyempitan saluran mani karena infeksi bawaan, faktor antibodi, antisperma, dan faktor gizi. 

Nah, seiring perkembangan zaman, aspek gaya hidup ternyata juga menyumbang 15 persen-20 persen pengaruh terhadap angka kejadian infertilitas. Seperti halnya yang dialami pasutri Ari-Trias, gaya hidup perkotaan yang serbacepat dan instan, kompetitif, dan mobilitas tinggi membuat orang rentan mengalami stres. 

Dampaknya cukup signifikan, mengganggu proses pematangan sel telur (ovulasi), gangguan produksi sperma, spasme saluran telur, serta menurunnya gairah dan frekuensi hubungan suami-istri. 

Gaya hidup serbainstan juga membuat orang tergoda mengonsumsi fast food ataujunk food sehingga memicu kelebihan berat badan. Padahal, kegemukan (atau sebaliknya badan yang terlalu kurus) menjadi salah satu penyulit hamil. Faktor penghambat lainnya adalah merokok, konsumsi kafein berlebih, efek konsumsi obat-obatan, serta kanker dan terapinya. 

Bagi pencandu alkohol sebaiknya juga segera menghentikan kebiasaan “minum” jika ingin segera memiliki momongan. Pasalnya, konsumsi alkohol pada wanita dapat menekan produksi hormon estrogen dan progesteron serta meningkatkan prolaktin. 

Dengan demikian, proses ovulasi jadi terhambat. Pada pria, alkohol menyebabkan penurunan ukuran testis, volume air mani, serta menurunkan konsentrasi, mortalitas, dan struktur normal sperma. Efek penurunan kualitas dan kuantitas sperma juga terjadi pada pemakai narkoba. 

Masih terkait gaya hidup, olahraga teratur memang memiliki sejumlah manfaat positif bagi jiwa dan raga. Namun, jika dilakukan secara berlebihan (overtraining) rupanya malah dapat mengganggu siklus haid yang ditandai pemendekan siklusluteal dan amenorrhea sekunder. 

Beralih ke faktor usia, Dr Indra NC Anwar dari Klinik Fertilitas Teratai RS Gading Pluit mengungkapkan, tren menunda usia perkawinan demi alasan mengejar karier cukup marak belakangan ini. Padahal, tingkat kesuburan wanita akan menurun mulai usia 35 tahun ke atas. 

“Setiap mengalami menstruasi, cadangan sel telur akan terus berkurang dan lama kelamaan akan habis sehingga terjadilah menopause sehingga indung telur berhenti memproduksi sel telur,” katanya. Jadi, bagi kaum wanita, jangan abaikan umur dan ingat jam biologis!

(Sumber: lifestyle.okezone.com)